Rabu, 04 Mei 2016

Cerpen-ku #1


 Dibalik Senyuman


Pertama kali mencoba hal baru sepertinya agak sulit bagi siapapun. Tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Nurul, murid SMA Negeri 7 Banyuwangi Jurusan MIPA yang duduk didepanku. O iya, salah satu sifat negatifku adalah suka menjelek-jelekan dan membandingkan semua temanku. Sebenarnya aku tidak seperti itu. Semenjak Nurul berada dalam kelasku, tiba-tiba saja sifat baruku itu "menghuni" tubuhku.



"Eh, Nurul itu sok alim tahu ! pakai kerudung setiap hari kemanapun dia pergi !" bisikku kepada Laura, teman sebangku-ku.

Laura tidak menjawab. Tetapi, aku maklumi itu, karena Memang itu sifatnya. Tanpa aku sadari, Nurul memperhatikanku dari tadi dan membalas dengan senyuman. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Baru saja aku ingin membalas perbuatannya, tiba-tiba bu Devy muncul di depan meja Laura yang tidak lurus dengan permukaan dinding.

Tubuhku merinding karena pikiranku yang membayangkan tentang hukuman yang dijatuhkan padaku karena tingkah laku-ku terhadap Nurul. Melihat bu Devy yang sedang memantau kerapihan kelas, dengan sigap Nurul langsung berdiri dan meluruskan mejanya. Di waktu yang bersamaan, bu Devy mengucapkan salam dan mengawali pelajaran dengan berdo'a. Rasa merinding dalam tubuhku langsung berkurang secara drastis berkat "pertolongan" Nurul. Tetapi tetap saja, sikap negatifku masih "betah" tinggal di tubuhku.

Suatu hari, Nurul tidak masuk sekolah. Semua merasa sangat kehilangan Nurul, kecuali aku. Aku pun merasa cukup senang karena ketidakhadiran Nurul. Biasanya, kalau hari itu ada ulangan di kelasku, biasanya saat istirahat teman-temanku memilih untuk belajar kepada Nurul yang katanya selalu belajar setiap hari, bahkan di hari libur ketimbang pergi ke kantin untuk makan dan mengobrol denganku. Tetapi, hari ini berbeda. Rasanya itu seperti rasa Hampa yang luas yang terisi oleh kesedihan yang mendalam.

Aku pun merenungkan perbuatanku selama ini kepada Nurul. Apakah mungkin ini salahku ? aku sendiri tidak tahu. Kemudian, aku memutuskan untuk bertanya kepada Laura tentang argumen dia terhadap sikapku. Laura yang dulunya itu pendiam sekarang berubah menjadi penasehat yang selalu membuatku terfokus terhadap masa depan yang sebenarnya belum aku rencanakan sejak awal masuk SMP. Sikapku berubah semenjak Laura memotivasiku. Amarahku terkendali, tidak pilih-kasih, waktu luang dipakai untuk belajar, dll. Ujian sekolah sudah dekat dan Nurul masih tidak masuk sekolah tanpa alasan. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengunjungi rumahnya Nurul.

Ternyata, lumayan jauh juga rumahnya Nurul (sekitar 2 Jam dari SMA Negeri 7 Banyuwangi) walaupun sudah memakai mobil. Jalan yang rusak dan sempit membuat waktu tempuh perjalanan kami menjadi 2 kali lebih lama. Ketika sampai, betapa kagetnya aku melihat Nurul yang terbaring lemas di tenda pengungsian . Aku langsung bertanya untuk mencari tahu.

"Rul, kok kamu tidur di tenda pengungsian ? bukannya kamu punya rumah sendiri ?" Tanyaku dengan muka kebingungan.

"Aku dan keluargaku dipindahkan kesini karena rumah kami rusak akibat gempa vulkanis gunung bromo yang belum lama terjadi. Semua buku beserta seragamku hilang tertimbun tanah. Aku pun tidak bisa sekolah karena banyaknya abu vulkanis dimana-mana dan aku juga tidak punya masker" Jawab Nurul dengan panjang-lebar dan dengan intonasi yang menggambarkan kesedihan seseorang.

"Lalu, mengapa kamu masih bisa dan terus belajar walaupun buku-bukumu telah hilang ?" Tanyaku lagi.

"Aku belajar untuk mengejar materi yang tertinggal di sekolah dan mencari beasiswa untuk meringankan biaya kuliahku nanti." Balasnya singkat dan bermakna dalam

Semenjak kejadian itu, aku bertekad untuk mengajaknya berteman dan menggelar dana sumbangan untuk Nurul. Dan aku juga berjanji untuk senantiasa menolong orang lain dimanapun aku berada agar kejadian ini tidak terulang lagi.                                                                                               The End

1 komentar: