Senin, 03 Oktober 2016

Cerpen-ku #2

Perasaan yang Tertahan


"Aku tidak tahu sampai berapa lama aku bisa tahan. Tapi yang pasti, aku harus melakukannya cepat atau lambat. Tapi, Kapan ?? KAPAN ?!?" Itulah pertanyaan sekaligus pernyataan yang menjadi prinsip hidupku setelah kitab suci.

Semua ini terjadi 6 tahun yang lalu dimana kami baru bersekolah di tempat yang baru dan belum mengenal siapa - siapa. Tetapi, semua itu berlalu dan kami cepat akrab walaupun aslinya ada 1 kejadian yang selalu aku ingat hingga sekarang, yaitu hampir semua guru disekolahku suka menyamakan nama diriku dan temanku. Aku masih ingat ketika kami kelas 3B dan kami sekelas, guru baru disekolahku mengira bahwa kami berasal dari 1 ibu kandung. Bagaimana aku tidak kesal dengan temanku yang namanya mirip denganku ??

Anehnya, semua itu berubah pada saat kelas 6. Entah mengapa aku suka padanya walaupun aku dulu membencinya waktu 3 tahun yang lalu. Mengingatnya saja seakan-akan diriku seperti meleleh karena kecantikannya memakai kerudung. Ditambah, dia itu selalu juara 3 besar di sekolah. Udah Cantik, Pintar, Alim lagi, siapa yang nggak mau ?? Rasanya aku ingin mendekat dan memegang tangannya, tetapi apakah aku seberani itu ??

"Lupakan sementara tentang dia dan fokuskan diriku untuk ujian masuk SMP" Itulah filosofi sementara diriku ketika H-30 sudah dimulai. Ketika hari H dimulai, bisa dibilang diriku sedikit grogi. Bukan tanpa alasan, Ternyata dia juga tes di sekolah dan di ruang yang sama denganku. "Wow... ini hanya kebetulan atau memang sudah ditakdirkan seperti itu ??" kataku dalam hati saat memasuki ruangan tes.

Alhamdulillah, aku masuk di sekolah impianku, SMPN 99 Jakarta. "setidaknya aku tahu aku dan dia satu sekolahan lagi  :D " ucapku dengan penuh semangat di dalam hati. Walaupun kami satu angkatan, sayangnya kami tidak sekelas. Di kelas yang baru, aku bertemu banyak teman baru dan dalam waktu kurang dari 2 bulan, aku sudah akrab dengan semua teman di kelasku.

Pada suatu hari (aku lupa tepatnya kapan), aku secara tidak sengaja membocorkan rahasiaku kalau aku suka sama Rika kelas 7F pada saat istirahat dan effeknya adalah aku suka di bilang "Cie cie" gituu..  Nyesel banget aku bocorkan rahasia terdalamku terutama kepada Fabian, yang suka memancing perasaan orang serta temanku Faris, temanku yang bisa bersiul.

Begini, waktu itu ada kegiatan yang bernama pelantikan pramuka. ketika aku sedang menuju masjid sendirian, si Rika jalan dibelakangku bersama temannya, Naura dan ketika dia tahu bahwa orang didepannya adalah aku, dia langsung menyapaku.

"Rico..." kata Rika sambil tersenyum dan melambaikan tangannya kepadaku.

Aku tidak menjawab karena aku malu dan waktu itu, sepertinya aku salting alias salah tingkah. Kemudian ia kembali berbicara.

"Rico sekarang sombong..." kata Rika dengan nada kecewa.

Mendengar itu, aku jadi tidak nyaman. Masa' iya sih aku di comment sesuatu yang negatif oleh orang yang aku suka ?? Akhirnya, aku menjawabnya dengan sedikit paksaan dengan nada seperti orang yang ramah dan baru kenal.

***

Nah, ketika aku sedang menjelajah hutan bersama Faris dan Fabian dan kami bertiga sedang dalam keadaan berlari, aku melihat Rika dan Naura sedang berjalan di depan diriku. Reaksinya adalah Faris pun langsung bersiul dan Fabian pun berkata "Rico, siapa tuhhhhh... ???" sambil menunjuk Rika. Dengan cepat aku berusaha untuk menjauh dari Rika. Sejak saat itu, ia selalu buang muka ketika melihatku.

Dugaanku sementara adalah karena dia mungkin sudah mengetahui bahwa aku menyukainya. Tetapi, sampai sekarang aku masih mempercayai dugaan itu, sampai detik ini. Dulu hanya ada '2 kembar' di sekolahanku, yaitu aku dan Rika. Sekarang ada '4 kembaran' sekolahanku, yaitu Rika, aku, Rizka dan Rizqy. Jangan sampai mitos Masa Lalu-ku terungkap. Jadi, aku dan Rika adalah suami-istri, Rizka dan Rizky menjadi anak; ataupun sebaliknya  -_-"
Jadi, perlukah aku memberi tahu yang sebenarnya jika ia sudah mengetahuinya duluan ?? Atau jangan - jangan mungkin aku lebih suka kepada Rizka dibanding Rika ??? Siapa yang tahu...

-Tamat-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar